Tautan rasa pengabdian masa: 2

Tergelincir mentari di separuh safarnya, namun kepanasannya membahang jiwa. Keletihan menjilat seluruh jasad, mengantuk menyerang pelupuk mata. Demi rezeki, kerja diteruskan jua.

Di tapak binaan pencakar langit, upah buruh terus menggamit…

Di bursa saham yang serba sengit, masih rancak tukaran ringgit…

Di pejabat pentadbiran dan pengurusan, masih banyak fail dan tugasan…

Di laut gelanggang para nelayan, jaring dan pukat terus melamar ikan…

Namun, jangan sekali-kali terlupa…Di masjid, di surau, di pinggir meja…solat menunggumu dengan setia…Sebagai penawar jiwa yang penat…munajatlah tika Zuhur…empat rakaat…

Sinar mentari pun lesu mengirim keredupan. Angin gemalai membelai wajah petang. Merpati sejoli bercanda di taman. Sekeluarga bersantai di bawah pepohon nan rendang. Keindahan, kelembutan sore kadangkala mengalpakan, lalu Tuhan mengingatkan:

“Demi waktu, manusia seluruhnya dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal soleh dan berpesan pada kebenaran dan kesabaran.”

Lalu penuhilah sumpah Tuhan itu, agar jiwamu tak gusar, emosimu tak sasar, agar jalan hidupmu tulus dan lurus, agar kemudi diri tak pincang kecundang.

Di waktu Asar, solatlah…Allahu Akbar!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: